Orang terakhir masuk dan mendesal paksa ke dalam lift yang hampir tak cukup menampung. Alarm berbunyi, menandakan beban di dalam lift terlalu berat. Terlalu banyak orang. Penuh, tak ada ruang bergerak. Bahu-bahu orang tak dikenal hampir semuanya saling menempel.
Suara tit… tit… tit… itu teror bagi telingaku, melesatkan sinyal cepat ke dalam otak: sistem lift error. Jika pintu tertutup, tak akan pernah lagi bisa membuka. Lalu aku terjebak bersama orang-orang tak dikenal ini, sebelum akhirnya keajaiban datang untuk membebaskanku.
Tit… tit… tit… disertai gumaman dari mulut-mulut berwajah bodoh. Udara tiba-tiba menipis, napasku mulai sesak. Tidak. Aku tak akan membiarkan tubuhku terjebak bersama orang-orang ini. Keluar. Keluar sekarang, perintah otakku.
Tepat ketika aku akan menyeruak, berlari keluar dari lift, orang yang tadi terakhir masuk justru semakin mendesal ke dalam untuk menyeimbangkan beban lift, dan pintu tertutup. Aku terdesak dalam kepanikan, terhimpit dikelilingi orang-orang asing menyebalkan ini. Selamanya. Jantung berdetak lebih kencang. Keajaiban, cepatlah datang.
Tekan. Ayo tekan tombol alarm di dinding lift! Mana tombolnya? Tidak, tidak ada tombol. Listriknya mati. Gelap.
Oh, atap. Lewat atap, seperti dalam film! Naik. Seseorang harus membantuku, menggendong tubuhku, agar dapat kujebol atap itu. Bukan, bukan seseorang. Beberapa orang.
Tidak, tidak, tidak. Tangan-tangan mereka akan menempel di kaki, paha, hingga punggung untuk menopang tubuhku naik ke atap. Tidak. Mual tiba-tiba menyerang. Aku menahan muntah. Bagaimana jika mereka semua berlutut, lalu aku menginjak bahu mereka untuk menjebol atap? Tidak. Kakiku akan menyentuh mereka. Tanganku mungkin akan memegang kepala dan rambut mereka agar tidak jatuh.
Tanganku langsung terasa tebal, berminyak setelah memegang rambut di kepala-kepala itu. Kedua telapak tanganku yang dingin dan lengket kugesekkan pada sisi celana jeansku untuk membersihkan sisa minyak yang menempel. Mereka semua saja yang keluar dari atap lift. Tolonglah, kalian semua keluar. Biar aku sendirian di dalam lift. Gelap. Duduk di sudut. Jauh dari mereka. Air mata hampir jatuh ketika bunyi ting terdengar dan pintu lift terbuka. Lift berhenti, dan lebih dari setengah isi lift keluar. Sentuhan bahu dan lengan beberapa orang di sekelilingku yang ikut keluar membuka mataku. Terang. Dingin. Semua tampak normal. Setetes kecil keringat mengalir turun di pinggir dahiku.
Pintu tertutup lagi. Lift berjalan normal, melaju naik ke lantai berikutnya. Angka di atas pintu lift berkedip, menunjukkan lantai yang kutuju sudah terlewat. Aku berdiri diam dalam kebingungan yang akrab, sambil mengatur napas. Pintu terbuka lagi, entah di lantai berapa, dan aku ikut turun bersama sisa orang di dalam lift.
Tak ada lift rusak. Tak ada sistem error. Tapi tubuhku merespons dengan kepanikan yang hampir melumpuhkanku. Kedua kaki lemas. Detak jantung berdentum memukul otot-otot dadaku. Keringat membasahi dahi hingga punggung. Telapak tanganku dingin.
Cari tempat duduk. Tenangkan dirimu dulu. Atur napas, kata suara bijak di dalam kepalaku. Ya. Bedakan—sekali lagi bedakan—mana gangguan dan mana realita. Sadari. Tarik napas dalam-dalam, buang perlahan.
Orang-orang antri masuk lift bergantian. Aku duduk sambil memandang mereka dari kejauhan. Laki-laki dan perempuan berpakaian dan berambut rapi, tampak terpelajar dan berilmu. Mereka saling mengobrol, tersenyum, tertawa, seolah keluar dan masuk lift adalah hal mudah dan biasa.
Beberapa saat kemudian, aku mencari tangga untuk turun ke lantai tujuanku, dan hidup terus berlanjut.